WELLCOME, SUGENG RAWUH, SELAMAT DATANG, BE HAPPY

Jumat, 29 Maret 2013

PARABHAVA SUTTA

Keruntuhan

Percakapan antara seorang dewa dan Sang Buddha mengenai penyebab-penyebab keruntuhan spiritual

Demikian yang telah saya dengar: Suatu ketika Sang Buddha berdiam di dekat Savatthi di Hutan Jeta di vihara Anathapindika. Di suatu malam yang indah, datanglah dewa yang menerangi seluruh Hutan Jeta dengan sinarnya yang cemerlang. Dewa itu mendatangi Sang Buddha, menghormat Beliau, dan berdiri di satu sisi. Dewa itu lalu berkata:
1. Saya ingin bertanya kepada-Mu, Gotama, tentang manusia yang menderita keruntuhan. Saya datang kepada-Mu untuk menanyakan penyebab-penyebab keruntuhan itu. (91)

Sang Buddha :
2. Dengan mudah dapat diketahui siapa yang maju, dengan mudah pula dapat diketahui siapa yang runtuh. Dia yang mencintai Dhamma akan maju, dia yang membenci Dhamma akan runtuh. (92)1
4. Dia yang senang berteman dengan orang jahat tidak akan suka bergaul dengan yang luhur; dia lebih menyukai ajaran dari orang jahat itu –inilah penyebab keruntuhan seseorang. (94)
6. Suka tidur, cerewet, lamban, malas dan mudah marah –inilah penyebab keruntuhan seseorang. (96)
8. Dia yang walaupun kaya namun tidak menyokong ayah ibunya yang sudah tua dan lemah –inilah penyebab keruntuhan seseorang. (98)
10. Dia yang menipu dengan menyamar menjadi pendeta, bhikkhu atau guru spiritual lain –inilah penyebab keruntuhan seseorang. (100)
12. Walaupun memiliki harta, aset, kekayaan berlimpah, namun dia menikmati semua itu sendirian –inilah penyebab keruntuhan seseorang. (102)
14. Jika dia menjadi sombong karena keturunan, kekayaan, atau lingkungannya, serta memandang rendah handai-taulan dan sanak-keluarganya –inilah penyebab keruntuhan seseorang. (104)
16. Senang bermain perempuan, mabuk-mabukan, berjudi, dan menghambur-hamburkan apa yang telah diperolehnya –inilah penyebab keruntuhan seseorang. (106)
18. Tidak puas dengan istrinya sendiri dan terlihat bersama pelacur atau istri orang lain –inilah penyebab keruntuhan seseorang. (108)
20. Setelah melewati masa muda, lalu memperistri orang yang masih muda, kemudian tidak bisa tidur karena merasa cemburu –inilah penyebab keruntuhan seseorang. (110)
22. Mempercayai dan memberi kekuasaan pada wanita yang suka mabuk dan menghambur-hamburkan uang, atau pada laki-laki yang berperilaku seperti itu –inilah penyebab keruntuhan seseorang. (112)
24. Jika seorang anggota keluarga [atau kelompok sosial atau komunitas] yang berpengaruh, yang memiliki ambisi membara namun tak memiliki sarana memadai, yang mengejar kekuasaan atau ingin menguasai orang-orang lain –inilah penyebab keruntuhan seseorang. (114)
26. Dengan merenungkan secara mendalam semua penyebab keruntuhan di dunia ini, maka orang bijak yang memiliki pandangan terang akan menikmati kegembiraan di alam bahagia. (115)
Catatan
  1. Bait-bait pertanyaan –93, 95, 97, 99, 101, 103, 105, 107, 109, 111, dan 113– telah dihilangkan.

VASETTHA SUTTA

Vasettha
Definisi yang Benar tentang ‘Brahmana’

Demikian yang telah saya dengar: Suatu ketika Sang Buddha berdiam di hutan Icchanangala. Banyak brahmana terkenal yang tinggal juga di sana, seperti Canki, Tarukkha, Pokkharasati, Janussoni dan Todeyya — yang semuanya brahmana terkenal, terpelajar, dan kaya.

Di antara orang-orang ini ada dua brahmana muda. Yang satu bernama Vasettha dan yang lain Bharadvaja. Suatu hari, ketika kedua orang muda ini sedang berjalan-jalan, mereka bercakap-cakap mengenai faktor-faktor yang membuat seseorang menjadi brahmana.

Bharadvaja berkata: ‘Itu berhubungan dengan keluarga seseorang. Jika latar belakang keluarganya murni, dan selama tujuh generasi tidak ada perkawinan campuran dengan kasta lain, baik pada pihak ibu maupun pihak ayah, maka dia adalah seorang brahmana.’

Tetapi Vasettha berkata: ‘Jika tindakan orang itu baik dan dia menjalankan kewajiban-kewajibannya, maka dia adalah seorang brahmana.’

Bharadvaja bersikeras pada teorinya, dan Vasettha pun berpegang teguh pada teorinya sendiri. Yang satu tidak dapat menyakinkan yang lain bahwa dia benar. Jadi Vasettha menyarankan agar mereka meminta nasehat orang lain.

Vasettha berkata kepada Bharadvaja. ‘Ada seorang pertapa bernama Gotama, pangeran suku Sakya, yang telah meninggalkan kehidupan berkeluarga. Banyak orang mengatakan: “Demikianlah Sang Tathagata karena Beliau telah sempurna, sepenuhnya tercerahkan, memiliki kebijaksanaan dan perilaku yang baik, agung, pengenal semua alam, pemimpin yang tiada bandingnya bagi manusia yang harus dikendalikan, guru para dewa dan manusia, yang telah tercerahkan dan mulia.’ Setelah menyadari Kebenaran (Dhamma), Sang Buddha membabarkannya agar diketahui dunia manusia dan para dewa, termasuk para pertapa dan brahmana. Beliau mengajarkan Kebenaran yang indah di awal, di tengah dan di akhir, penuh makna, kaya dalam kata-katanya, dan sepenuhnya lengkap. Beliau mengajarkan kehidupan suci yang sempurna. Benar-benar luar biasa melihat orang-orang suci semacam ini!’

Baiklah, Bharadvaja,’ kata Vasettha, ‘Marilah kita menjumpai Gotama, dan memohon Beliau untuk menjernihkan pertanyaan ini! Kemudian kita akan menerimanya sebagaimana dijelaskan oleh pertapa Gotama.’

Bharadvaja berkata: ‘Baik. Marilah kita pergi.’ Maka kedua orang muda itu pergi mencari Sang Guru. Ketika menemukan Sang Buddha, mereka menyapa dengan sopan dan duduk di satu sisi. Kemudian

Vasettha berbicara kepada Sang Guru dalam kata-kata berikut ini:
1. Tuan, kami berdua adalah siswa ajaran-ajaran ortodoks, dan kami berdua dikenal dan dianggap sebagai pakar dalam pelajaran Kitab Veda. Guru saya adalah Pokkharasati, dan teman saya ini belajar dari Tarukkha. (594)
2. Kami telah mempelajari semua Kitab Komentar dari ketiga Veda, dan kami memenuhi syarat untuk mengajarkan irama, tata bahasa, dan doa (595)
3. Walaupun demikian, Gotama, ada satu pertanyaan yang kami berdua tidak sepakat, yaitu tentang pentingnya keturunan. Bharadvaja bersikeras bahwa orang adalah brahmana karena dia dilahirkan sebagai brahmana. Namun saya yakin, bahwa yang dilakukan orang itulah yang penting. Kami harap Tuan –yang memiliki pandangan terang– mengetahui ketidaksepakatan ini. (596)
4. Karena kami berdua tidak bisa menyelesaikannya sendiri, kami datang kepada-Mu untuk menanyakan hal ini. Kami mendengar Engkau disebut Yang Sepenuhnya Tercerahkan. (597)
5. Oleh orang-orang Engkau diperlakukan dengan penuh hormat. Mereka menangkupkan tangan ketika melihat Tuan, sama halnya seperti ketika mereka menghormat rembulan yang bertambah besar. (598)
6. Engkau adalah mata dunia, Gotama, maka kami bertanya kepada-Mu untuk mempertimbangkan pertanyaan ini: ‘apakah yang membuat orang menjadi brahmana? Apakah karena kelahiran, atau karena apa yang dia lakukan? Kami tak dapat memecahkannya, Gotama, jadi jelaskan dan beritahukanlah apa brahmana itu.’ (599)
7. Sang Buddha menjawab Vasettha dengan kata-kata ini ‘Akan kujelaskan kepadamu –dalam urutan yang benar dan berdasarkan fakta– tentang berbagai macam makhluk hidup karena ada banyak spesies. (600)
8. Jika engkau memandang pohon atau rumput, walaupun mungkin tidak kau sadari, ada banyak jenis dan spesies. Ada berbagai macam yang berbeda-beda. (601)
9. Kemudian juga ada serangga, yang besar misalnya ngengat dan yang kecil misalnya semut. Pada makhluk-makhluk ini juga engkau dapat melihat bahwa mereka memiliki jenis dan macam yang berbeda. (602)
10. Dan pada binatang berkaki empat –tak peduli berapa besarnya– engkau dapat melihat bahwa mereka memiliki jenis dan spesies yang berbeda. (603)
11. Sekarang lihatlah makhluk-makhluk melata, yang berjalan di atas perut, seperti misalnya reptil dan ular engkau dapat melihat bahwa mereka memiliki jenis dan spesies yang berbeda. (604)
12-13. Pandanglah ikan dan kehidupan air — pandanglah burung dan binatang yang terbang — engkau dapat melihat bahwa mereka memiliki jenis dan spesies yang berbeda. (605-6)
14. Di antara manusia, jenis dan spesiesnya tidak sebanyak yang terdapat di antara spesies-spesies lain. (607)
15. Tidak seperti spesies-spesies lain, di antara manusia tidak ada perbedaan jenis maupun spesies sehubungan dengan mata, telinga, mulut, hidung, bibir, alis, dan bahkan rambut mereka — semuanya dari jenis yang sama. (608)
16. Dari leher sampai ke pangkal paha, dari bahu sampai ke pinggul, dari punggung sampai ke dada — untuk manusia semuanya satu jenis (609)
17. Tangan, kaki, jari, kuku, betis dan paha, semuanya standar. Begitu juga ciri-ciri suara dan warnanya. Tidak seperti makhluk lain, manusia tidak memiliki ciri-ciri yang membedakan mereka pada waktu lahir. (610)
18. Mereka tidak memiliki berbagai ciri warisan yang dimiliki makhluk lain. Sebenarnya, dalam hal manusia, perbedaan-perbedaan itu ada hanya karena kaidah atau ketentuan1. (611)
19. Misalnya, Vasettha, jika seseorang memelihara sapi dan hidup dari hasil sapi-sapi itu, kita tahu bahwa dia adalah petani. Kita tidak menyebutnya brahmana. (612)
20. Begitu juga, jika seseorang mencari nafkah lewat keterampilan, maka kita tahu bahwa dia adalah pengrajin. Kita tidak menyebutnya brahmana. (613)
21. Jika dia menopang dirinya dengan berdagang, maka kita tahu bahwa dia adalah pedagang, bukan brahmana. (614)
22. Jika seseorang memperoleh bayaran dengan melayani orang lain, maka kita menyebutnya pegawai, bukan brahmana. (615)
23. Seseorang yang hidup dengan mengambil barang-barang milik orang lain dikenal sebagai pencuri, bukan brahmana. (616)
24. Dan seorang pemanah yang menjual keterampilannya dikenal sebagai prajurit. Kita tidak menyebutnya brahmana. (617)
25. Seseorang yang pekerjaannya melakukan ritual dan upacara dikenal sebagai pendeta, bukan brahmana. (618)
26. Seseorang yang hidup dari hasil negara dan desa dikenal sebagai tuan tanah atau raja. Kita tidak menyebutnya brahmana. (619)
27. Aku tidak menyebut seseorang brahmana hanya karena ibunya atau karena keturunannya. Hanya karena seseorang berhak disebut ‘Tuan’, tidak berarti bahwa dia terbebas dari kebiasaan dan kemelekatan. Dia yang terbebas dari kemelekatan, dia yang terbebas dari ketamakan adalah orang yang kusebut brahmana. (620)
28. Jika semua rantai telah dihancurkan, jika gejolak sudah tidak lagi ada, jika orang telah membebaskan dirinya dan membuang belenggu-belenggunya — itulah orang yang kusebut brahmana. (621)
29. Dia yang telah memutus tali pengikat [ketidaktahuan] dan kendali [pandangan-pandangan salah], yang telah menghilangkan rintangan dan telah tercerahkan, adalah orang yang kusebut bahmana. (622)
30. Dia yang tanpa menjadi jengkel menerima penghinaan dan kekerasan, yang memiliki daya tahan sebagai kekuatan dan bala tentaranya, adalah orang yang kusebut brahmana. (623)
31. Tidak ada kemarahan dan tidak ada kebodohan batin. Yang ada hanyalah tenaga pengendalian diri dan kekuatan tindakan yang suci. Jadi tidak ada pengulangan kebiasaan, tidak ada tumimbal lahir. Inilah yang kusebut brahmana. (624)
32. Bagaikan tetes air di atas daun teratai, bagaikan biji mostar di ujung jarum, nafsu-nafsu indera menggelinding dan tidak meninggalkan jejak padanya. Inilah orang yang kusebut brahmana. (625)
33. Dengan menghilangkan beban dan membuang rantai –di sini, di dunia ini, dia dapat melihat bahwa bahkan penderitaan pun ada akhirnya. Inilah orang yang kusebut brahmana. (626)
34. Orang yang kaya kebijaksanaan, yang bijaksana, yang terampil mengetahui mana jalan yang benar dan mana yang salah, yang telah mencapai tujuan tertinggi, adalah orang yang kusebut brahmana. (627)
35. Tidak ada sandaran, tidak ada ketergantungan, tidak merasa perlu berkumpul dengan orang lain, baik pemilik harta maupun bhikkhu yang berkelana. Sudah cukup dengan yang sederhana; inilah arti ‘brahmana’. (628)
36. Meletakkan senjata kekerasan, berhenti membunuh makhluk apa pun, berhenti menyebabkan orang lain membunuh mahkluk apa pun; inilah arti ‘brahmana’ (629)
37. Dia yang tidak menunjukkan kemarahan terhadap mereka yang marah, yang damai terhadap mereka yang menggunakan kekerasan, yang tidak tamak di antara mereka yang cenderung tamak, adalah orang yang kusebut brahmana. (630)
38. Dia yang telah melenyapkan keinginan, kebencian, kesombongan dan keirihatian, bagaikan biji mostar yang menggelinding dari ujung jarum, adalah orang yang kusebut brahmana. (631)
39. Dia yang mengucapkan kata-kata yang tidak kasar, kata-kata yang benar serta penuh makna, kata-kata yang tidak menyebabkan kemarahan orang lain, adalah orang yang kusebut brahmana. (632)
40. Tidak memiliki kekayaan, tidak ada benda-benda yang dikumpulkan, seberapa pun besarnya, jumlahnya atau nilainya; inilah arti ‘brahmana’. (633)
41. Tidak ada yang diharapkan, tidak memiliki keinginan melekati dunia ini atau dunia lain; dia tidak terikat, telah terbebas; inilah arti ‘brahmana’. (634)
42. Tidak ada keinginan –pertanyaan dan keraguan lenyap karena adanya pengetahuan, dan dia mencebur ke dalam keadaan tanpa-kematian; inilah arti ‘brahmana’. (635)
43. Dia yang telah pergi melampaui [ketidakmurnian] perbuatan yang memberikan pahala atau tidak, yang bebas dari kesedihan dan kekotoran batin, serta telah murni; inilah arti ‘brahmana’. (636)
44. Bersifat jernih, tenang, tanpa noda, bagaikan rembulan di mana belenggu-belenggu dumadi yang terus-menerus telah terputus dan terbuang; inilah arti ‘brahmana’. (637)
45. Dia yang telah pergi melampaui jalan siklus tumimbal lahir yang kasar dan berbahaya serta telah melampaui kebodohan batin, yang telah menyeberang dan pergi ke pantai seberang, yang melaksanakan perenungan, tanpa nafsu, dan bebas dari keraguan, orang yang tenang dan tak melekat, adalah orang yang kusebut brahmana. (638)
46. Kesenangan nafsu indera telah pergi, dia membiarkannya pergi demi kehidupan seorang kelana tak-berumah. Kesenangan nafsu indera akan dumadi yang terus-menerus telah lenyap, telah terbuang; inilah arti ‘brahmana’. (639)
47. Tuntutan kemelekatan telah hilang, dia membiarkannya pergi demi kehidupan seorang kelana tak-berumah. Keinginan akan dumadi yang terus-menerus telah lenyap, telah terbuang; inilah arti ‘brahmana’. (640)
48. Beban berat di punggung manusia, beban yang bahkan memberati para dewa — semuanya telah diletakkan, dibuang dan diatasi: dia tidak lagi terikat pada kuk, telah bebas. Inilah arti ‘brahmana’. (641)
49. Menghindari rasa senang dan tidak senang, dia telah menjadi dingin dan bebas dari dasar-dasar [yang menuju tumimbal lahir]. Dia adalah seorang pahlawan yang telah mengatasi semua alam, dia adalah orang yang kusebut ‘brahmana’. (642)
50. Dia yang telah sepenuhnya memahami bagaimana terjadinya makhluk dan bagaimana makhluk-makhluk berhenti, dia yang tidak melekat, yang hidup dengan benar dan tercerahkan, adalah orang yang kusebut ‘brahmana’. (643)
51. Dia yang nasibnya tidak dapat diketahui oleh para dewa dan manusia, orang yang telah menghapus nafsu, orang yang mulia, adalah orang yang kusebut ‘brahmana’. (644)
52. Dia tak memiliki harta milik apa pun — tak satu pun di masa lalu, tak satu pun di masa depan, tak satu pun di masa kini. Dia tidak memegangi apa pun sama sekali; terbebas dari kemelekatan, inilah yang kusebut ‘brahmana’. (645)
53. Seorang pahlawan — manusia besar, yang terkemuka, yang bijaksana, manusia yang menang, yang tidak memiliki rasa takut. Tidak melekat; tercuci [dalam air kebijaksanaan]; tercerahkan. Inilah yang kusebut ‘brahmana’. (646)
54. Dia mengetahui kehidupan-kehidupan lampaunya, dia telah melihat bentuk-bentuk kehidupan yang lain, alam-alam yang menyedihkan dan alam-alam yang bahagia. Inilah pencapaiannya: sampai di akhir rantai tumimbal lahir. Inilah yang kusebut ‘brahmana’. (647)
55. Jadi apa arti gelar, nama dan ras ini? Semuanya hanyalah kaidah-kaidah duniawi saja. Itu ada karena persetujuan umum. (648)
56. Kepercayaan salah ini telah lama sekali erat terpahat di pikiran orang yang bodoh, dan [masih saja] orang-orang bodoh ini mengatakan kepada kita: ‘Orang menjadi brahmana lewat kelahiran.’ (649)
57. [Sebaliknya], tak seorang pun terlahir sebagai brahmana; tak seorang pun terlahir sebagai non-brahmana. Seorang brahmana menjadi brahmana karena apa yang dia lakukan; orang yang bukan brahmana menjadi bukan brahmana karena apa yang dia lakukan. (650)
58. Seorang petani menjadi petani karena apa yang dia lakukan, demikian pula seorang pengrajin disebut pengrajin karena apa yang dia lakukan. (651)
59. Seorang pedagang, pelayan, pencuri, prajurit, pendeta atau raja: masing-masing menjadi apa adanya karena apa yang dia lakukan. (652)
60. Demikianlah orang bijaksana melihat tindakan seperti yang telah benar-benar terjadi. Mereka terampil dalam buah-buah tindakan dan mereka dapat melihat sebab musabab yang saling bergantungan. (653)
61. Dunia ada karena tindakan-tindakan yang berpenyebab, semua hal dihasilkan karena tindakan yang berpenyebab dan semua makhluk tunduk dan terikat oleh tindakan-tindakan yang berpenyebab. Mereka terpateri bagaikan roda kereta yang menggelinding, yang tertancap oleh paku pada tangkai as rodanya. (654)
62. Brahmana adalah hasil dari penahanan diri, kehidupan yang bermanfaat dan pengendalian diri. Inilah esensi brahmana. (655)
63. Jadi, Vassettha, pahamilah hal ini dengan jelas: ada orang-orang yang bijaksana dan berpengalaman dalam ketiga bagian pengetahuan (yaitu Kitab Veda), yang tenang dan telah menyelesaikan ikatan rantai dumadi yang berulang-ulang. Orang-orang ini harus dikenali sebagai ‘Brahma atau Indra.’ (656)

Kemudian Vassettha dan Bharadvaja berkata kepada Sang Buddha: ‘Sungguh menakjubkan, Yang Mulia Gotama! Sungguh luar biasa, Yang Mulia Gotama! Sebagaimana orang menegakkan apa yang telah terjungkir balik, atau mengungkapkan apa yang tadinya tersembunyi, atau menunjukkan jalan kepada orang yang tersesat, atau memberikan sinar penerangan di dalam kegelapan sehingga mereka yang memiliki mata dapat melihat benda-benda, demikian pula Kebenaran telah dijelaskan oleh Yang Mulia Gotama dengan berbagai cara. Oleh karenanya, kami berlindung dalam Beliau, dalam Dhamma-Nya, dan SanghaNya. Semoga Yang Mulia Gotama berkenan menerima kami sebagai siswa awam yang sejak saat ini telah mengambil perlindungan dalam Dia selama hidup kami.’
Catatan
  1. Harus diingat bahwa ketika menjelaskan ciri-ciri fisik manusia, Sang Buddha hanya mengacu ke penduduk India di timur laut dan bagian tengah dari anak benua itu.Di sini Sang Buddha mengacu ke perbedaan-perbedaan yang terlihat dari pengalaman pribadinya, dan kemudian menjelaskan bahwa tindakan-tindakan (kamma) dan tingkah laku merupakan kunci menuju kesempurnaan dan pencerahan. Tetapi akibat wajar dari tumimbal lahir dapat membuat orang dilahirkan di alam-alam ‘tinggi’ atau ‘rendah’ –yaitu lingkungan yang dapat mendorong atau menghalangi pertumbuhan spiritual (atau bahkan materi). Jadi, walaupun setiap orang memiliki potensi untuk memahami, kamma menyebabkan selalu adanya hasil yang tidak sama. Maka, tidaklah relevan jika bagian bacaan ini dikutip keluar dari konteksnya dalam debat apa pun mengenai ‘kesetaraan ras’, seperti yang dilakukan oleh K. N. Jayatileke dan G.P. Malalasekera di dalam karya mereka, Buddhism and the Race Question (UNESCO, Paris, 1958; dicetak ulang oleh BPS, Kandi 1974). Untuk pendekatan Buddhis rasional mengenai hal ini, lihat Human Progress: Reality or Illusion? karya Philip Eden (BPS 1974).

PENYUSUNAN RPP BERDASARKAN PERMENDIKNAS No. 41 Tahun 2007


A. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Perencanaan proses pembelajaran berdasarkan PP 19 tahun 2005 pasal 20 meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pengajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar. Sedangan RPP menurut Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007 merupakan penjabaran dari silabus untuk mengarahkan kegiatan belajar peserta didik dalam upaya mencapai KD.  Setiap guru pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun RPP secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.

B. Komponen RPP
RPP dapat disusun untuk setiap KD yang dapat dilaksanakan dalam satu kali pertemuan atau lebih. RPP dirancang untuk setiap pertemuan yang disesuaikan dengan kalender pendidikan di satuan pendidikan. Komponen RPP adalah:
1.        Identitas mata pelajaran, meliputi
a.       satuan pendidikan,
b.      kelas,
c.       semester,
d.      program studi,
e.      mata pelajaran atau tema pelajaran,
f.        jumlah pertemuan.
2. Standar kompetensi; merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diharapkan dicapai pada setiap kelas dan/atau semester pada suatu mata pelajaran.
3.    Kompetensi dasar; adalah sejumlah kemampuan yang harus dikuasai peserta didik dalam mata pelajaran tertentu sebagai rujukan penyusunan indikator kompetensi dalam suatu pelajaran.
4.   Indikator pencapaian kompetensi; adalah perilaku yang dapat diukur dan/atau diobservasi untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang menjadi acuan penilaian mata pelajaran. Indikator pencapaian kompetensi dirumuskan dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan.
5.   Tujuan pembelajaran; menggambarkan proses dan hasil belajar yang diharapkan dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar.
6.   Materi ajar; memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator pencapaian kompetensi.
7.   Alokasi waktu; ditentukan sesuai dengan keperluan untuk pencapaian KD dan beban belajar.
8.  Metode pembelajaran; digunakan oleh guru untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mencapai kompetensi dasar atau seperangkat indikator yang telah ditetapkan. Pemilihan metode pembelajaran disesuaikan dengan situasi dan kondisi peserta didik, serta karakteristik dari setiap indikator dan kompetensi yang hendak dicapai pada setiap mata pelajaran.
9.    Kegiatan pembelajaran; Untuk mencapai suatu kompetensi dasar harus dicantumkan langkah-langkah kegiatan setiap pertemuan. Pada dasarnya, langkah-langkah kegiatan memuat unsur kegiatan sebagai berikut:
a.       pendahuluan/pembuka;
b.      kegiatan inti terdiri atas, eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi; dan
c.       kegiatan penutup.
10. Penilaian hasil belajar; yaitu prosedur dan instrumen penilaian proses dan hasil belajar disesuaikan dengan indikator pencapaian kom¬petensi dan mengacu kepada Standar Penilaian.
11.   Sumber belajar; Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar, serta materi ajar, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi.

C. Langkah-Langkah Penyusunan RPP
Langkah-langkah minimal dari penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dimulai dari mencantumkan Identitas RPP, Tujuan Pembelajaran, Materi Pembelajaran, Metode Pembelajaran, Langkah-langkah Kegiatan pembelajaran, Sumber Belajar, dan Penilaian. Setiap komponen mempunyai arah pengembangan masing-masing, namun semua merupakan suatu kesatuan.
Penjelasan tiap-tiap komponen adalah sebagai berikut:
1.   Mencantumkan Identitas; terdiri dari: nama sekolah, mata pelajaran, kelas, semester, standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator dan alokasi waktu.
2.  Merumuskan Tujuan Pembelajaran; Output (hasil langsung) dari satu paket kegiatan pembelajaran. Bila pembelajaran dilakukan lebih dari satu pertemuan, ada baiknya tujuan pembelajaran juga dibedakan menurut waktu pertemuan, sehingga tiap pertemuan dapat memberikan hasil.
3.   Menentukan Materi Pembelajaran; untuk memudahkan penetapan materi pembelajaran, dapat diacu dari indikator.
4.  Menentukan Metode Pembelajaran; Metode dapat diartikan benar-benar sebagai metode, tetapi dapat pula diartikan sebagai model atau pendekatan pembelajaran, bergantung pada karakteristik pendekatan dan/atau strategi yang dipilih. Karena itu pada bagian ini cantumkan pendekatan pembelajaran dan metode yang diintegrasikan dalam satu kegiatan pembelajaran peserta didik:
a. Pendekatan pembelajaran yang digunakan, misalnya: pendekatan proses, kontekstual, pembelajaran langsung, pemecahan masalah, dan sebagainya.
b. Metode-metode yang digunakan, misalnya: ceramah, inkuiri, observasi, tanya jawab, cooperative learning, e-learning dan sebagainya.
5.      Menetapkan Kegiatan Pembelajaran; langkah  minimal yang harus dipenuhi pada setiap unsur kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut:
a.    Kegiatan pendahuluan. (10% dari Total Alokasi Waktu). Dalam kegiatan pendahuluan, guru
menyiapkan siswa secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran;
mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari; menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai; dan menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan sesuai dengan silabus.
b.    Kegiatan inti (eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi). (75% dari Total Alokasi Waktu)Dalam kegiatan inti guru melakukan kegiatan-kegiatan pembelajaran sebagai berikut:
  • EKSPLORASI; Dalam kegiatan eksplorasi, guru: melibatkan siswa mencari informasi yang luas dan dalam tentangØ topik/tema materi yang akan dipelajari dengan menerapkan prinsip alam takambang jadi guru dan belajar dari aneka sumber; menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran dan sumber belajar lain; memfasilitasi terjadinya interaksi antarsiswa serta antara siswa dengan guru, lingkungan dan sumber belajar lainnya; melibatkan siswa secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran; dan memfasilitasi siswa melakukan percobaan di laboratorium, studio atau lapangan. 
  •  ELABORASI; Dalam kegiatan elaborasi, guru: membiasakan siswa membaca dan menulis yang beragam melalui tugas-tugas tertentu yang bermakna; memfasilitasi siswa melalui pemberian tugas, diskusi dan lain-lainØ untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis; memberi kesempatan untuk berpikir, menganalisis, menyelesaikan masalah dan bertindak tanpa rasa takut; memfasilitasi siswa dalam pembelajaran kooperatif dan kolaboratif; memfasilitasi siswa berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar; memfasilitasi siswa membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis secara individual maupun kelompok; memfasilitasi siswa untuk menyajikan hasil kerja secara individual maupun kelompok; memfasilitasi siswa melakukan pameran, turnamen, festival, serta produk yang dihasilkan; dan memfasilitasi siswa melakukan kegiatan yang menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya diri siswa. 
  •  KONFIRMASI; Dalam kegiatan konfirmasi, guru: memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat, maupun hadiah terhadap keberhasilan siswa; memberikan konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi siswa melalui berbagai sumber; memfasilitasi siswa melakukan refleksi untuk memperoleh pengalaman belajar yang telah dilakukan; memfasilitasi siswa untuk memperoleh pengalaman yang bermakna dalam mencapai kompetensi dasar: berfungsi sebagai narasumber dan fasilitator dalam menjawab pertanyaan siswa yang menghadapi kesulitan, dengan menggunakan bahasa yang baku dan benar; membantu menyelesaikan masalah;  memberi acuan agar siswa dapat melakukan pengecekan hasil eksplorasi; memberi informasi untuk bereksplorasi lebih jauh; dan memberikan motivasi kepada siswa yang kurang atau belum berpartisipasi aktif.
c.   Kegiatan Penutup; Dalam kegiatan penutup, guru: bersama-sama dengan siswa dan/atau sendiri membuat rangkuman/simpulan pelajaran; melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram; memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran; merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar siswa; dan menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya.
Langkah-langkah pembelajaran dimungkinkan disusun dalam bentuk seluruh rangkaian kegiatan, sesuai dengan karakteristik model pembelajaran yang dipilih, menggunakan urutan sintaks sesuai dengan modelnya. Oleh karena itu, kegiatan pendahuluan/pembuka, kegiatan inti, dan kegiatan penutup tidak harus ada dalam setiap pertemuan.
6.       Memilih Sumber Belajar; Pemilihan sumber belajar mengacu pada perumusan yang ada dalam silabus yang dikembangkan. Sumber belajar mencakup sumber rujukan, lingkungan, media, narasumber, alat dan bahan. Sumber belajar dituliskan secara lebih operasional, dan bisa langsung dinyatakan bahan ajar apa yang digunakan. Misalnya, sumber belajar dalam silabus dituliskan buku referensi, dalam RPP harus dicantumkan bahan ajar yang sebenarnya. Jika menggunakan buku, maka harus ditulis judul buku teks tersebut, pengarang, dan halaman yang diacu. Jika menggunakan bahan ajar berbasis ICT, maka harus ditulis nama file, folder penyimpanan, dan bagian atau link file yang digunakan, atau alamat website yang digunakan sebagai acuan pembelajaran.
7.       Menentukan penilaian; penilaian dijabarkan atas:
a.       teknik penilaian;
b.      bentuk instrument; dan
c.       instrumen yang dipakai yang beris rubrik penilaian.