WELLCOME, SUGENG RAWUH, SELAMAT DATANG, BE HAPPY
Tampilkan postingan dengan label Buddhism. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buddhism. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Februari 2014

HUKUM KARMA



“Sesuai benih yang ditabur, demikian buah yang diperoleh,
Pelaku kebaikan akan mengumpulkan kebaikan / kebahagiaan,
Pelaku keburukan, memperoleh keburukan / penderitaan.
Taburlah biji dan kamu akan merasakan buah darinya”
(Samyutta Nikaya I:227)

Pengertian Karma
Hukum karma merupakan salah satu hukum alam yang mengatur hubungan sebab akibat suatu perbuatan. Kamma (Pali) atau karma (Sanskerta/Indonesia) secara harfiah berarti perbuatan. Namun secara teknis karma adalah perbuatan yang dilandasi niat. “Niat (cetanā) itulah yang Kusebut karma; karena setelah berniat, seseorang berbuat melalui tubuh, ucapan dan pikiran” (Aguttara Nikaya III, 415). Niat bisa hanya berada dalam pikiran, atau menimbulkan karma pikiran yang tercetus melalui pemikiran, perencanaan, dan keinginan, atau terekspresikan melalui perbuatan tubuh dan ucapan.
Kesalah Pahaman Mengenai Hukum Karma
Penggunaan kata “karma” ini pada umumnya ditujukan untuk menggambarkan hal-hal yg tidak baik (negatif). Hal ini tidaklah tepat, sesuai definisinya, karma merujuk pada semua perbuatan baik dan buruk. Untuk menyatakan akibat/buah, digunakan istilah vipaka atau phala. Misal ada seorang anak (Adi) melempari orang dijalan dengan batu, lalu orang tersebut terluka sebagai akibatnya setelah diusut diketahui bahwa Adi-lah pelakuknya, akibatnya ia dimarahi dan dihukum. Dari cerita ini dapat dijelaskan bahwa perilaku Adi yang melempari orang disebut karma buruk (akusala kamma), adi dimarahi dan dihukum disebut akibat karma buruk (akusala vipaka kamma), Orang dijalan yang terluka karena dilempari Adi sedang menerima akibat karma buruk dari perbuatan-perbuatan dia yang sebelumnya (bisa dalam hidup ini atau dalam kehidupan sebelumnya)
Penggolongan Karma
Menurut kitab Visudhimagga terdapat 12 macam karma yang dikelompokkan menjadi 3 golongan sebagai berikut:
Karma menurut fungsinya:
1. Karma penghasil (Janaka-kamma) adalah karma yang membuahkan akibat.
2. Karma penguat (Upatthambhaka-kamma) adalah karma yang memperkuat akibat karma lain.
3. Karma pelemah (Uppapīlaka-kamma) adalah karma yang melemahkan akibat karma lain.
4. Karma penghancur (Upaghātaka-kamma) adalah karma yang mampu menghancurkan akibat karma lain.
Karma menurut prioritasnya:
1. Karma berat (Garuka-kamma) adalah karma yang sangat berat/dahsyat akibatnya. Contoh akusala garuka kamma (karma buruk yang sangat berat akibatnya) yaitu membunuh ibu, membunuh ayah, membunuh arahat, melukai Buddha, dan memecah belah sangha. Contoh kusala garuka kamma (karma baik yang sangat besar akibatnya) yaitu mencapai jhāna (konsentrasi mendalam yang diperoleh melalui meditasi benar) dan magga-phala (tingkat kesucian).
2. Karma menjelang ajal (Maranāssana-kamma) adalah karma yang dilakukan saat menjelang kematian. Karma menjelang ajal ini sangat menentukan kehidupan kita pada kehidupan selanjutnya. Karma menjelang ajal biasanya berupa mano kamma (perbuatan melalui pikiran) yang sangat dipengaruhi oleh perbuatan (karma) semasa hidup.
3. Karma kebiasaan (Ācinnaka-kamma) adalah karma yang dilakukan sebagai kebiasaan selama hidup.
4. Karma kumulatif/cadangan (Katatta-kamma) adalah karma yang akan membuahkan hasil jika karma lainnya tidak ada.
Karma menurut waktu berbuah:
1. Karma yang berbuah pada kehidupan ini (Ditthadhamma Vedanīya-kamma).
2. Karma yang berbuah pada satu kehidupan yang akan datang (Upapajja Vedanīya-kamma).
3. Karma yang berbuah pada kehidupan-kehidupan mendatang atau waktu tak tertentu (Aparapariya Vedanīya- kamma)
4. Karma yang kadaluwarsa atau sudah habis waktu berbuahnya, sehingga tidk menimbulkan akibat (Ahosi-kamma)
Bagaimana Karma Bekerja?
Semua perbuatan yang didasi dengan niat memiliki potensi menimbulkan akibat (vipaka) atau buah (phala) yang sesuai dengan kausalitas perbuatan itu sendiri. Benih-benih karma akan mengikuti kita dari satu kehidupan ke kehidupan berikutnya yang akan menghasilkan buah jika saatnya sesuai dan kondisi mendukung. Buddha bersabda: "Sesuai benih yang ditabur, demikian buah yang diperoleh, Pelaku kebaikan akan mengumpulkan kebaikan / kebahagiaan, pelaku keburukan, memperoleh keburukan / penderitaan. Taburlah biji dan kamu akan merasakan buah darinya" (Samyutta Nikaya I:227)

Hukum karma bukan hukum pembalasan, sehingga terdapat jalan untuk mempengaruhi atau menekan akibat karma buruk dengan cara mengembangkan kemampuan dan kebiasaan baik. A
gulimāla seorang pembunuh yang bertobat karena kasih Buddha, ia mengubah dirinya secara total hingga berhasil mencapai kesucian. walaupun sudah membunuh 999 orang, ia hanya menanggung luka diserang orang-orang yang ingin membelas dendam, namun terhindar dari alam neraka.

Terdapat tiga akar penyebab karma buruk, yaitu ketamakan (lobha), kebencian (dosa), dan kebodohan batin (moha). Jika suatu perbuatan dilakukan dibawah pengaruh tiga hal ini, hasilnya akan mengakibatkan penderitaan. Kebalikannya merupakan akar dari karma baik.
Sepuluh perbuatan baik terdiri dari:
1. Berderma (Dana)
2. Moralitas (Sila)
3. Mengembangkan batin (Bhavana)
4. Menghargai, menghormati (Apacayana)
5. Melayani (Veyyavacca)
6. Melimpahkan jasa (Pattidana)
7. Bergembira atas jasa orang lain (Pattanumodana)
8. Membabarkan Dharma (Dhammadesana)
9. Mendengarkan Dharma (Dhammasavana)
10. Meluruskan pandangan (Ditthijjukamma)

Sepuluh perbuatan buruk terdiri dari:
Tindakan Jasmani
1. Membunuh (Panatipata)
2. Mencuri (Adinnadana)
3. Berzina (Kamesumichacara)
Ucapan
4. Berdusta (Musavada)
5. Memfitnah (Pisunavaca)
6. Berkata kasar (Pharusavaca)
7. Omong kosong (Samphappalapa)
Pikiran
8. Iri (Abhijjha)
9. Berniat buruk (Vyapada)
10. Berpandangan salah (Micchaditthi)
Dapatkah karma Berubah?
Karma mempengaruhi kelahiran kita yang akan datang dan mempengaruhi apa yang kita alami selama hidup: bagaimana orang lain memperlakukan kita, kekayaan, status sosial, lingkungan tempat tinggal, dan sebagainya. Karma juga mempengaruhi kepribadian dan watak, bakat, perilaku dan kebiasaan kita. Namun karma bukanlah nasib atau takdir yang tak dapat dirubah lagi. walaupun pada kehidupan sekarang kita mengalami akibat-akibat dari perbuatan (karma) yang silam, kita masih memiliki kesempatan untuk mengubah, mengurangi atau menambah akibat-akibat dari perbuatan-perbuatan lampau ini melalui perbuatan saat ini, yang akan mempengaruhi masa depan atau kehidupan yang akan datang. Bagaimana caranya?
Karma buruk tidak dapat dihapus begitu saja dengan permintaan maaf atau tobat. Permintaan maaf dan tobat hanya awal untuk meredakan rasa bersalah, setelah itu haruslah aktif melakukan perbuatan baik.
Dapatkah kita menolong Makhluk lain yang menderita akibat karma buruknya?
Semua makhluk bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri, namun hal ini tidak berarti bahwa kita tidak perlu menolong makhluk yang menderita. Justru kepedulian, empati dan welas asih kita sangatlah penting demi perkembangan spiritual dan demi kedamaian dunia. Buddha dalam Parabhava Sutta menjelaskan bahwa menikmati sendiri kekayaan atau kelebihan itu dan tidak menyokong orang lain, dicela sebagai sebab kemerosotan seseorang (Sn. 102). Seperti juga sabda awal Buddha kepada misionaris Buddhis pertama yaitu "Pergilah demi kebaikan dan kebahagiaan banyak makhluk, atas belas kasih pada dunia, demi kebaikan, kesejahteraan dan kebahagiaan para dewa dan manusia. Babarkanlah Dharma yang indah pada awalnya, indah pada pertengahannya, dan indah pada akhirnya, dalam arti maupun isinya. Serukanlah hidup suci, yang sungguh sempurna dan murni" (Vin. I, 21). Dari sabda ini jelas penting untuk saling berbagi bukan hanya materi, yang terlebih penting lagi adalah membagikan Dharma kepaada sesama sehingga beroleh kebahagiaan.
Manfaat memiliki keyakinan terhadap hukum karma
Keyakinan haruslah berdasarkan pada pemahaman yang benar. Keyakinan terhadap hukum karma semestinya menimbulkan kesadaran bertanggungjawab terhadap perbuatan sendiri, menghargai setiap waktu yang dimiliki, memiliki pengendalian diri; secara sadar menghindari kejahatan dan mengembangkan diri dan melakukan kebajikan, memiliki kesabaran; tidak mengeluh jika mengalami hal-hal yang tidak diinginkan, dan pada akhirnya memiliki sikap bertanggung jawab atas nasib sendiri sehingga akan giat berusaha untuk memperbaiki diri.

Minggu, 29 September 2013

Waisak Membawa Kebahagiaan

Dhammadesana
Nama           : Budi Alexander
Kelas            : XI SMA Metodist Palembang
Pembimbing : Ivan Yulietmi
Tahun 2010

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa 3x

Sukho buddhānamuppādo                      
Sukhā saddhammadesanā                     
Sukhā samghassa sāmaggī                   
Samaggānam tapo sukho (Dhp.195)
Kelahiran para Buddha merupakan sebab kebahagiaan
Pembabaran ajaran Benar merupakan sebab kebahagiaan
Persatuan Sańgha merupakan sebab kebahagiaan
Dan usaha perjuangan mereka yang telah bersatu merupakan sebab kebahagiaan

Dewan juri yang terhormat
Teman-teman sedharma yang berbahagia
Namo Sanghyang adi Buddhaya
Namo Buddhaya
Terimakasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk berbagi Dhamma dengan teman-teman  semua. Ini merupakan karma baik yang luar biasa bagi saya karena pada hari ini dapat berjumpa dengan teman-teman se-Dharma dan berkesempatan untuk berbagi Dhamma Sang Buddha yang luar biasa ini. Hari ini saya akan menyampaikan dhammadesana dengan tema “Waisak Membawa Kebahagiaan”.

Setiap satu tahun sekali, sebagai umat Buddha kita memperingati hari raya waisak. Adakah yang tahu? Apakah hari raya waisak itu? …. Hari raya waisak  merupakan hari yang bersejarah bagi kita semua, yaitu umat Buddha. Karena pada hari inilah Guru Agung kita, Buddha Gotama, lahir, mencapai kebuddhaan, dan parinibbana pada waktu yang sama yaitu pada bulan purnama sidhi di bulan waisak kurang lebih 2554 tahun lalu.

Teman-teman, Buddha Gotama lahir dengan nama Siddhartha Gotama sebagai putra dari Raja Suddhodana dan Ratu Mahamaya dari kerajaan Sakya di India. Pangeran Siddharta lahir pada tahun 623 SM di taman lumbini tepat pada bulan purnama sidhi di bulan waisak, ketika Beliau lahir sungguh terjadi keajaiban yang luar biasa, seperti: bumi bergetar, hujan panas-dingin dan bunga-bunga bermekaran meskipun bukan pada waktunya. Dan tak kalah menakjubkan Beliau pun bisa langsung berjalan sebanyak tujuh langkah dan di setiap jejak langkahnya langkahnya muncul bunga teratai yang sanga luarbiasa indahnya! Wah… hebat ya teman-teman.

Peristiwa kedua adalah hari dimana pangeran Sidharta mencapai Kebuddhaan. Pada usia 29 tahun Pangeran Siddharta bertekad melepaskan kehidupan keduniawiannya dengan memotong rambutnya dan melpaskan perhiasan-perhiasan yang Beliau pakai di tepi sungai anoma. Setelah beliau melepaskan semuanya, Beliau pun mulai menjalani kehidupan sebagai petapa yang sangat sederhana, yang berbeda jauh dengan kehidupan semasa hidup di istana.

Selama 6 tahun Beliau menjalani pertapaan menyiksa diri di hutan uruvela. Setelah selama itu Beliau akhirnya menyadari bahwa semua itu tak ada gunanya. Sampai akhirnya Beliau meninggalkan cara ini dan mencari cara lain. Untuk menguatkan tekad ini Beliau pun pergi ke sebuah sungai yaitu sungai neranjara dengan membawa sebuah patta atau mangkuk makan yang biasa di gunakan oleh para petapa. Setelah sampai, beliau bertekad jika mangkuk ini dapat melawan arus sungai ini, maka cita-cita Beliau akan tercapai. Akhirnya beliau pun melemparkan mangkuknya dan sesuatu terjadi. Ajaib. Sungguh menakjubkan teman-teman bahwa mangkuk yang beliau lempar itu dapat melawan arus sungai itu. Dengan tekad penuh Beliau akhirnya memilih jalan bermeditasi dengan menjaga keseimbangan antara kebutuhan jasmani dan rohani. Pada akhirnya, ketika Beliau duduk bermeditasi di bawah pohon besar yang menaunginya Beliau mencapai kebuddhaan. Setelah itu selama 45 tahun Buddha berkeliling India mengajarkan Dhamma kepada banyak orang dan tak terhingga banyaknya orang yang telah mendapat manfaat dari dharma yang Sang Buddha ajarkan.

Peristiwa ketiga yaitu hari dimana Buddha parinibbanan pada usia 80 tahun atau tepat pada tahun 543 SM. di bulan purnama siddhi di bulan waisak! Setelah Beliau menyiarkan Dhamma selama 45 tahun, Beliau parinibbana diantara dua pohon sala kembar di kusinara. Pada saat itu, semua siswa-siswanya memberikan penghormatan yang terakhir kalinya dan juga begitu pula dewa-dewa yang tak ketinggalan memberikan penghormatan terakhir pada Buddha Gotama.

Tiga peristiwa penting inilah yang membuat hari raya waisak sangat dihormati oleh seluruh umat Buddha di seluruh dunia. Teman-teman apa makna yang bisa kita ambil dalam setiap perayaan waisak.
Kalau kita renungkan akan ada beberapa hal yang bisa kita maknai seperti dalam syair Dhammapada 195
Kelahiran para Buddha merupakan sebab kebahagiaan
Pembabaran ajaran Benar merupakan sebab kebahagiaan
Persatuan Sańgha merupakan sebab kebahagiaan
Dan usaha perjuangan mereka yang telah bersatu merupakan sebab kebahagiaan

Mari kita bahas satu persatu :
Pertama; Kelahiran para Buddha merupakan sebab kebahagiaan. Teman-teman untuk terlahir menjadi manusia itu tidak mudah, kita harus punya tumpukan karma baik yang sangat banyak, namun demikian bertemu dengan Buddha atau ajaran Buddha jauh lebih sulit lagi. Karena tidak semua orang punya cukup banyak karma baik untuk bertemu Buddha. Buddha adalah manusia suci yang telah tercerahkan sempurna. Beliau adalah teladan hidup bagi siapa saja yang ingin mencapai kebahagiaan dunia dan setelah mati, Beliau mengajarkan pada kita bagai mana menjalani kehidupan yang berkualitas dan akhir yang bahagia, yaitu dengan menjalankan Dharma dalam kehidupan sehari-hari. Ini alasan mengapa Kelahiran para Buddha merupakan sebab kebahagiaan. 

Kedua; Pembabaran ajaran Benar merupakan sebab kebahagiaan. Kita sangat beruntung terlahir pada masa dimana Buddha hadir didunia dan mengajarkan Dhamma. Ajaran Buddha telah berusis + 2554 tahun, namun demikian ajaran Beliau tidak pernah usang, tidak pernah ketinggalan jaman. caba kita renungkan dari jaman dulu sampai sekarang, ajaran untuk tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berbuat asusila, tidak berbohong, dan tidak mengkonsumsi zat yang memabukkan adalah ajaran yang dipegang dan dilaksanakan oleh semua orang dudunia, dan ini adalah pedoman sehari-hari kita.

Ketiga; Persatuan Sańgha merupakan sebab kebahagiaan. Dengan adanya contoh nyata dari orang-orang yang telah berhasil mempraktekkan ajaran Buddha dan menjadi arahat, orang suci, dan persatuan mereka adalah sebab kebahagiaan bagi kita.

Dan keempat; usaha perjuangan mereka yang telah bersatu merupakan sebab kebahagiaan, mempraktekkan ajaran Buddha memerlukan semangat dan kesabaran karena kehidupan ini penuh dengan gadoaan untuk melakukan hal-hal yang bisa merugikan diri sendiri, oleh karena itu usaha perjuangan dari mereka yang bersemangat untuk menjalankan dan merealisasi Dharma adalah sebab kebahagiaan.

Nah teman-teman inilah yang selalu harus kita renungkan setiap saat, terlebih lagi pada saat waisak, Hal ini akan selalu mengingatkan kita untuk selalu meneladani Buddha dan terus mempraktikkan ajaran Buddha dalam setiap detik kehidupan kita, supaya kita bahagia.

Nah teman-teman, kesimpulan dari pembicaraan ini adalah hari raya Tri Suci Waisak merupakan hari yang sangat bersejarah untuk kita, karena pada saat inilah Guru kita sang Buddha lahir, mencapai kesempurnaan dan parinibbana. dengan demikian kelahiran Buddha, pembabaran Dhamma, persatuan sangha dan usaha dari mereka yang telah bersatu adalah sebab kebahagiaan bagi kita.

Baiklah semoga dengan Dhamma desana ini kita semua dapat memperoleh berkah kedamaian, kesehatan dan kebahagiaan. Dan tak lupa juga kita limpahkam jasa-jasa kebajikan ini kepada orang tua kita, guru-guru kita, dan pada semua makhluk!

Sabbesatta bhavantu sukhittata.
Semogha semua makhluk hidup berbahagia!
Sadhu, sadhu. sadhu.

Namo Sanghyang adi Buddhaya

Namo Buddhaya

Sayang Papa Mama

Contoh Dhammadesana Anak
Nama            : Ferlian Pasha
Kelas            : VI SD Negeri 2 Palembang
Pembimbing  : Widya Kusuma & Ivan Yulietmi

Matapitu upatthanam                         
Etammanggalamuttamam
Membantu ayah dan ibu
Itulah berkah utama

Namo Sanghyang Adi Buddhaya
Namo Buddhaya
Bapak/Ibu juri yang terhormat, dan teman-teman se-Dharma yang terkasih. Semoga kebahagiaan senantiasa meliputi kita semua. Pada kesempatan ini saya, Ferlyan Pasya kelas 6, kontingen dari sumatera selatan akan berbagi Dharma dan cerita dengan semuanya. Pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan bahwa membantu ayah dan ibu adalah berkah utama.
Teman-teman se-Dharma yang berbahagia, tahukah kalian Zang Da?
Zang Da adalah seorang anak luar biasa dari China. Pada 27 Januari 2006 Zang Da mendapat penghargaan “Perbuatan Luar Biasa”. Apakah yang membuat Zang Da memperoleh penghargaan?
Keluarga Zang Da adalah keluarga yang sederhana, bukan, bahkan sangat sederhana. Ibunya meninggalkan Zang Da dan ayahnya karena tidak tahan hidup miskin. Zang Da saat itu berusia 10 tahun. Ia pun harus berjuang mempertahankan hidupnya. Kenapa? Ayah Zang Da sakit keras, yang membuatnya tak dapat berjalan, apa lagi bekerja.
Bagaimana Zang Da bisa menjalani hidup seperti itu? Apakah Zang Da akan menyerah? Tentu saja tidak. Saat pulang sekolah Zang Da melewati hutan kecil, ia pun mulai memakan bijian-bijian, buah, daun dan jamur. Ia semakin tahu makanan yang disediakan oleh alam yang dapat dimakannya. Bukankah ia hebat? Biasanya saat kita lapar kita ingin menikmati makanan yang enak. Mungkin ayam goreng? Mungkin Nasi goreng buatan ibu?
Teman-teman, setelah pulang sekolah, Zang Da bekerja memecah batu. Uang yang diperolehnya digunakan untuk membeli keperluan sehari-hari. Namun, sepertinya ia banyak menggunakan uang hasil memecah batu untuk membeli beras dan obat ayahnya. Zang Da bahkan belajar menyuntik dari seorang suster untuk menyuntikan obat kepada ayahnya. Dengan tekad yang kuat untuk merawat ayahnya, Zang Da memberanikan diri untuk menyuntik ayahnya. Ternyata berhasil dan ia semakin pandai melakukannya.
Perjuangan hidup dan kasihnya yang tak lelah menjaga ayahnya, Zang Da patut memdapat penghargaan. Hal lain yang membuatnya jadi perhatian adalah saat penerimaan penghargaan. Ada banyak sekali orang-orang kaya yang siap membantu Zang Da. Namun, saat ditanya apa yang diinginkan, Zang Da hanya menjawab “Mama, kembalilah. Saya bisa membantu papa, saya bisa mencari makan sendiri. Mama kembalilah”.
Bukankah Zang Da adalah anak yang hebat?
Bagaimana dengan kita? Tentu saja kita adalah anak yang hebat! J
Teman-teman, tahukah istilah lain untuk ayah dan ibu kita?
Ayah dan ibu berbuat banyak untuk anak-anak mereka; mereka membesarkan, menjaga dan memperkenalkan anak-anaknya dengan dunia. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa dalam  Anguttara Nikaya, ayah dan ibu disebut dengan istilah BRAHMA yaitu guru bijaksana dari masa lampau, para dewa yang pantas menerima persembahan.
Didalam Sigalovada sutta, Buddha telah menunjukkan jalan bagaiamana seorang berbakti pada orang tuanya. Apapun kondisi orang tua kita, kitalah yang memiliki kewajiban untuk merawatnya.
Apakah teman-teman ingat apa saja kewajiban anak kepada orang tua? Ya, kewajiban pokok kita kepada orang tua ada lima.
1.    Menyokong orang tua yang telah membesarkan kita
2.    Melakukan apa yang harus dikerjakan demi orang tua
3.    Menjaga nama baik dan tradisi keluarga
4.    Menjadikan dirinya patut menerima warisan mereka
5.    Melimpahkan jasa kebajikan kepada mendiang orang tua
Nah, teman-taman, selanjutkanya saya akan menguraikan satu persatu bagaimana kelima kewajiban itu dapat kita lakukan mulai dari sekarang.
Kewajiban pertama, bagaimana kita melakukannya? Bukankah saat ini kebanyakan dari kita belum bekerja? Teman-teman yang berbahagia, mulai dari sekarang kita dapat menyimpan tekad baik untuk meraih cita-cita kita nantinya. Sehingga pada saat kita telah mandiri kita mampu menyokong ayah dan ibu kita.
Melakukan apa yang harus dikerjakan demi orang tua. Zang Da telah memberi contoh pada kita dalam hal ini. Lalu apakah kita juga harus belajar menyuntik seperti Zang Da? Bukan ini yang saya maksud. Mungkin bisa lebih sederhana dari apa yang telah Zang Da lalukan. Setidaknya kita tidak merepotkan orang tua kita.
Teman-teman yang berbahagia. Kewajiban selanjutnya adalah menjaga nama baik dan tradisi keluarga. Cara menjaga nama baik keluarga adalah dengan menjaga sikap dan perilaku kita. Sering kita mendapat nasihat dari kakak-kakak di Sekolah Minggu Buddha bahwa hendaknya kita menjaga pikiran, ucapan dan perbuatan kita. Sehingga perbuatan kita tidak merugikan orang lain. Karena, jika ada yang dirugikan maka hal ini akan membuat orang tua kita bersedih.
Ketika kita memilih mengucapkan kata-kata yang baik dan jujur, kita akan lebih disayang oleh orang-orang disekitar kita. Sebaliknya saat kita memakai kalimat kasar itu hanya akan menyakiti orang-orang disekitar kita dan membuat orang tua kita bersedih. Begitu juga dengan perbuatan kita. Suka memukul, menendang, jahil pada teman yang lain maka kita akan lebih dikenal sebagai ‘anak nakal’. Lalu orang-orang akan menceritakannya pada orang tua kita. Bukankah hal ini akan membuat orang tua kita sedih?
Kewajiban ke empat yaitu menjadikan diri kita patut menerima warisan. Kenapa? Tahukah teman-teman Orang tua kita tidak rela melihat anaknya hidup bersusah - susah di tempat orang lain.Orang tua telah mempersiapkan warisan terbaik (tidak selalu harta) untuk anaknya, hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menyerahkan. Maka kita pun juga harus menjadi pewaris yang baik. Bagaimana caranya?
Ya, tentu kita bisa mulai dengan menjadi anak berprestasi. Bukan hanya berprestasi dengan nilai rapor yang bagus namun juga dalam sikap. Seperti tidak boros, suka menabung, pandai merawat barang yang dimiliki dan sebagainya.
Teman-teman pasti pernah menerima hadiah dari orang tua kita. Mungkin tas sekolah, penghapus, pinsil, buku dan lain-lain. Pasti teman-teman akan menjaganya dengan baik bukan?
Kewajiban ke lima adalah dengan melimpahkan jasa kepada orang tua yang tiada. Teman-teman, pasti sedih sekali jika kita ditinggal orang tua. Tahukah teman-teman siswa utama Buddha yang bernama Bhikkhu Moggalana? Beliau sedih melihat ibunya berada di alam menderita. Kemudian Bhikkhu Moggalana melimpahkan jasa kebajikan kepada ibunya. Kita bisa mencontoh apa yang dilakukan oleh Bhikkhu Moggalana.
Ada komik Buddhis yang berjudul Maitrakanyaka, mungkin teman-teman pernah membacanya. Kisah ini bersumber dari Tripitaka Sansekerta (diwyawadana) yang juga di pahat pada dinding candi Borobudur. Maitrakanyaka mendapat pelajaran berharga bahwa seorang anak harus berbakti pada orang tua (menuruti nasihat-nasihat orang tua) melebihi pencarian harta duniawi apa pun.
Di dalam sutra bhakti seorang anak, diceritakan Buddha memberi penghormatan kepada tumpukan tulang yang merupakan tulang milik seorang ayah dan ibu. Seorang ayah sering pergi ke vihara, berbuat bajik dan bijaksana menjaga keluarga. Karena itulah tulang ayah berwarna putih. Ibu mengandung anak-anaknya, menyusui, menjaga dan merawat anak-anaknya. Karena itulah tulang ibu lebih gelap dan rapuh.
Teman-teman jadi dapat kita simpulkan: jasa orang tua kita tidak bisa kita balas dengan harta benda. Menjadi anak yang tidak melupakan jasa-jasa orang tua kita, itu akan lebih baik. Karena dengan begitu, kita mampu merawat dan melaksanakan kewajiban-kewajiban anak kepada orang tua kita.
Demikianlah uraian bakti anak kepada orang tua. Semoga bermanfaat. Jika ada salah kata dan ekspresi, saya mohon maaf. Begitu juga dengan kebaikan hati teman-teman yang mendengarkan saya ucapkan terimakasih.

Semoga ayah dan ibu sehat dan bahagia.
Semoga kita berbahagia,
Semoga semua makhluk berbahagia.
Sadhu sadhu sadhu.

Namo Sang Hyang Adi Buddhaya.
Namo Buddhaya

Kamis, 04 April 2013

The Top 10 Inspirational Buddha Quotes


  1.  “All that we are is the result of what we have thought. The mind is everything. What we think we become.”

  2. “All wrong-doing arises because of mind. If mind is transformed can wrong-doing remain?”

  3. “Thousands of candles can be lit from a single candle, and the life of the candle will not be shortened. Happiness never decreases by being shared.”

  4. “Do not dwell in the past, do not dream of the future, concentrate the mind on the present moment.”

  5. “However many holy words you read, however many you speak, what good will they do you If you do not act on upon them?”

  6. “Even death is not to be feared by one who has lived wisely.”

  7. “Peace comes from within. Do not seek it without.”

  8. “In the sky, there is no distinction of east and west; people create distinctions out of their own minds and then believe them to be true.”

  9. “If we could see the miracle of a single flower clearly, our whole life would change.”

  10. “The only real failure in life is not to be true to the best one knows.”